Melva Sari Simangunsong

Dear people, this blog is not truly and merely about me n my life only. I am a random-post-writer. So I post everything in my mind.The thing that I wrote is not all about me, n not all about you. Thanks. :)

Selasa, 01 April 2014

Apa Hati Kita Pernah Benar-benar Bersatu?



Teruntuk kamu, kekasih hatiku…
Ini adalah tahun kedua aku dan kamu…
Tahun dimana ada “kita” di dalamnya…
Hanya saja, kita memang tak lagi ada dalam ikatan yang sama.
Aku sendiri. Dan kamu? Ah, jangan beri tahu aku jawabannya. Aku bahkan tau kapan saja dia menggamit lenganmu dengan mesra. Sementara aku sibuk meratapi rasa rindu ingin digegnggam manis olehmu. Kesepuluh jariku sangat merindukan genggam hangat tanganmu.

Aku tau, bahkan kalian belum juga mengecap rasa status “berpacaran.” Tapi aku juga tau, jika kalian sudah layaknya seperti pasangan yang berpacaran.
Oh, Neptunus, selamatkan aku!
Aku tak tau apa alasanmu tak menjadikannya kekasihmu. Aku tak tau mengapa kau menggantungkan cintanya pada persimpangan dimana aku berada.

Aku memang mesti menangisi kebodohan dan kepasrahan diriku.
Kau datang padaku, dan aku dengan sukacita menerimamu untuk kembali bermain dengan hatiku.


Minggu, 09 Maret 2014

Dua Puluh Hari Setelah Kepergianmu

Aku menjamu pagiku dengan senyum malas (lagi). Hari ini adalah hari ke-20 setelah aku berganti status yang biasanya ada dihatimu, lalu diganti dengan harapan semu. Singkatnya, aku tanpamu. Sudah 20 hari kata “pisah” dan “putus” serta “single” itu berdiam di hati dan pikiranku.

Aku tau, aku bukan hanya menginginkan status “in relationship” denganmu. Aku tau, yang kukejar bukanlah sekedar merk “berpacaran” denganmu. Aku… aku hanya ingin aku ada dihatimu. Sama seperti kamu yang selalu ada dihatiku. Tak peduli aku tiada lagi menggenggam tanganmu. Tak mengapa walau aku takkan bisa lagi memelukmu. Tapi bisakah, aku tinggal dihatimu? Ah, hanya harapan semu yang berputar dalam anganku yang mulai sering menggerogoti.

Kamis, 20 Februari 2014

Imagine How Your Life Will Be Without Fear

By Chris Green

I wonder if you, like me, have been presented with countless opportunities to take a different path in life but succumbed to the power of fear each time? Sometimes, the opportunities arose out of the blue and needed a quick decision. On many other occasions though, the opportunities arose because I'd had a dream and an ambition to try something new, to do something I had a passion for or to connect with someone I liked.

Each time, the opportunity passed me by and I was left frustrated and puzzled as to why things never changed. I know I'm not unique, as this happens to most people and I'm sure you've been there too. Fear, the most powerful of our emotions, is the villain who cheats us out of life-enhancing opportunities.

Have you ever imagined what your life would be like if fear simply didn't exist?

Senin, 17 Februari 2014

Apa Kau Benar Setegar Itu?


Aku baru mengenal sosok perempuan ini kurang dari 1 tahun…

Tapi, apa kau tau? Aku banyak belajar darinya dalam waktu yang relative singkat itu.
Aku tau dia bukanlah seorang penyabar di masa lalunya…
Namun, luka yang diterimanya cukuplah membentuk dia menjadi sosok perempuan yang bisa kukatakan kuat, dan sedikit demi sedikit hal itu juga mulai muncul didiriku.

Dia pernah berkata, “Apa kau tau? Aku bahkan tak tau jika aku mampu bersabar seperti ini sebelum luka-luka itu datang menggerogoti hidupku yang kecil ini.”
Dia bahkan masih bisa tersenyum dengan manisnya, sementara pelupuk matanya sudah digenangi air mata yang siap untuk jatuh kapan saja.
Aku hanya bisa terdiam menanggapinya.

Aku tau isi dari setiap bab perjalanan hidupnya. Semua ceritanya dengan gamblang diceritakannya padaku.
Kadang, kulihat dia menangis dan hendak menjerit di tengah malam menangisi sosok yang dikiranya tak akan pernah kembali. Sosok itu bukan mati di telan bumi, bukan juga hilang selamanya. Dia bahkan masih ada dihidupnya. Dekat.
Hanya saja, waktu telah merubahnya…
Keadaan telah merenggut sebagian dari dirinya yang dikenal perempuan itu.

Saat secercah harapan mulai datang,
Aku bahkan turut berdoa untuk kebahagiaan mereka yang pelan-pelan timbul. Yaah, harus kukatakan, secercah harapan itu baru sebentuk cahaya korek api ditengah gelapnya malam. Bisa kau bayangkan kan? Masih terlalu kecil. Masih terlalu kecil.
Mereka dengan tekun memulai semua dari awal lagi. Belajar memperbaiki apa yang harus diperbaiki.

Namun, lagi dan lagi…
Kehidupan seakan tak pernah puas mengajarinya tentang kepahitan.
Kau mungkin akan menangis saat menonton drama Korea atau film sedih nan romantis lainnya. Namun, mungkin kau akan menjerit jika kau juga tau apa yang dialami perempuan yang baru kukenal ini. Terlebih, jika kau duduk disampingnya dan mengamati cerita hidupnya setiap hari.

Oh, Tuhan…
Aku sangat menyayangi wanita ini.
Sampai kapan dia akan bersabar?
Sering kali kutemui dia tersenyum miris sambil mengetikkan pesan singkatnya untuk kekasih impiannya yang susah payah diperjuangkannya sampai saat ini.
Kadang, aku bahkan dengan berani merogoh sakunya dan melihat apa isi pesan singkatnya saat dia tak ada. Dan kau tau? Aku temukan emot-emot tersenyum nan cantik di sana, padahal dengan jelas sebelumnya bisa kulihat jika dia menangis.

Apa kau memang sudah belajar sabar sejauh itu, gadis?

Pernah kau berkata kepadaku, “Terkadang, ada saatnya kau tak mendapat hal yang kau inginkan. Belajarlah mengikhlaskan.”

Dan setelah itu, dengan tegarnya dia mundur perlahan dari hidup laki-laki dan wanita lain itu.
Bagaimana bisa dia dengan senyum itu bertahan dengan pesan yang jelas-jelas tak diinginkannya untuk terjadi?

Aku benar-benar mengasihinya. Sungguh.
Ini bukan sinetron, tapi kutau, kisah cintanya dengan laki-laki itu tak mudah. Belum lagi ada sosok wanita lain yang mencoba merantai laki-laki itu agar tak kembali pada perempuan tegar yang kukenal itu.

Mungkin, perempuan itu akan kembali tegar, yah atau berpura-pura tegar. Karena kutau, dia akan menghabiskan beberapa jam malamnya untuk menangis, menghabiskan waktu luangnya untuk termenung sendirian di depan cermin, lalu menangis lagi…
Tanpa diketahui oleh siapapun, terlebih sosok yang dicintainya.

Satu hal...
Aku tau, bahwa benarlah jika perempuan itu dan laki-laki itu sangat mencintai satu sama lain. Hanya saja, keadaan sekarang tak mungkin dilawan.

Apa kau memang benar setegar itu?

Ah, apapun itu...
Bertahanlah, kau!

Minggu, 26 Januari 2014

Teruntuk: Minggu Malamku yang Semu

Teruntuk malam…

Mungkin benar kau bisa bilang aku kepayahan dalam mengeja pesanmu hari ini.
Mungkin betul  jika kau sebut aku kesusahan melayangkan pandang pada masa depan.

Aku mengerjap-ngerjap seakan aku sedang ada dalam halimun yang tak bisa kusingkap kini.
Aku bermegap-megap menyerbu oksigen yang bisa kurasa saat dada  sudah sesak dengan asap hitam yang dibawanya…

Dan hey,
Aku terbiasa mengecap rasa pahit saat tak ada lagi mata yang menatapku dengan binar jernihnya.

Kau tau, malam…
Meski kau tertawa atas kepayahanku.
Meski kau bersenang atas kepahitanku.
Aku tak akan goyah lalu jatuh dan jatuh ke dalam lubang kemarin.
Terimakasih…

*ditulis pas lagi galau sama tugas TEFL dan gatau mo ngapain, dan ini bukan puisi sih sebenernya*




Sabtu, 25 Januari 2014

Keterpaksaan?


Hello, kamu...
selamat malam minggu...

selamat bertemu kembali dalam bayang-bayang masa lalu yang masih kusimpan..
kusematkan salam rindu lewat dinginnya angin yang berhembus untuk kamu...
kutitipkan doa lewat sepinya malam yang terlalu sendu untuk digambarkan...
doa untuk kamu dan dia...

yaa,,,
semua sudah tinggal jadi abu dan debu bukan?
nasi sudah jadi bubur..
Aku tau. Aku paham. Dan kita benar-benar mundur.

Kamu apa memang terpaksa? atau hanya alasan?
Ah, jangan tanya aku ini tentang apa.
Kau jelas tau kan..
Sekali lagi, keterpaksaan kah yang membuatmu melayangkan pandangan lalu tenggelam di dalam dia?

Jawab saat kau benar-benar tau jawabannya...


Selamat...
Dariku.



Minggu, 19 Januari 2014

Sampai Kapan?

Kalau kata Dwitasari, tidak semua yang saya tulis adalah saya, dan tidak yang semua kamu baca adalah kamu. Dan hey, singkat saja… kalaupun ada, tak berarti 100% sama…

Selamat malam, 19 Januari ku...

Aku suka kamu, 19.
Namun sayang, tanggal cantik ini mesti diganggu dengan kehadiranmu yang mungkin tak lagi pantas bahkan untuk ada dibenakku...

Dalam radius 100 mil saja, mungkin tak kau temukan dia yang sesabar aku...
Kamu, apa akan terus berpura-pura nyaman dengan ini?
Atau cuma kasihan pada dia?