Melva Sari Simangunsong

Dear people, this blog is not truly and merely about me n my life only. I am a random-post-writer. So I post everything in my mind.The thing that I wrote is not all about me, n not all about you. Thanks. :)

Minggu, 16 November 2014

Ketika Hujan Turun Sore Ini

Sore ini saat jarum panjang di jam analog hitamku menunjukkan angka 6, sementara jarum pendek hampir mendekati angka 3, aku bertekur dalam diam diantara 2 bangunan ruko di pinggir jalan kota yang tidak terlalu besar ini. Bangunan ini sering saya lewati saat saya hendak pergi ke kampus atau pasar. Saya sudah familiar dengan daerah ini. Bagaimana tidak? Sudah 21 tahun saya tinggal disini. Tak jemu dan tak bosan. Atau mungkin pura-pura tak bosan dengan keadaan yang ada agar tetap bisa terbiasa dan betah, jika saya harus menyebutnya sebagai betah.

Saya sedang sendirian berteduh. Saya biarkan motor saya terparkir sekenaknya di depan ruko. Asal joknya tidak terlalu basah terkena tampias hujan, biarlah.

Kamis, 13 November 2014

Senja Hari Ini

Aku berjalan mendekat kearah balkon abu-abu yang terpancang diperbatasan lantai paling atas kamar kos ku. Memandangi beberapa gumpal besar awan yang sedang menggantung dengan warnanya yang putih seperti kapas dilangit senja sambil mendengar musik dari headphone hijau besar yang terpasang di kedua telinga kiri dan kananku.

Lagu yang kudengar adalah soundtract satu film Disney! Kau tau kan? Si peri hijau itu. Lagu yang pas untuk petang kali ini.

 Jika saja aku adalah seorang peri, atau jika aku punya sayap seperti bidadari bak yang digambarkan serial anak atau seperti yang ditayangkan di beberapa sinetron televisi swasta, mungkin sudah kuhabiskan menit dan detik, jam dan hariku disana. Bercengkrama dengan langit biru dan bersenandung lewat desau angin yang kurasa akan cepat membuatmu merasakan kantuk.

Rabu, 15 Oktober 2014

Selamat Senja, Kamu

Selamat senja…

Bisa kulihat 2-3 awan membelah langit kemerahan sore ini, menggantung bak barisan anak domba yang berlarian dikejar tanpa arah.

Bisa kulihat pelan-pelan pendar jingga sang mentari merangkak melewati beningnya air sungai dimana kakiku sedang bermain dengan percik air. Cantik.

Soreku terasa begitu hangat. Cuaca yang terkesan begitu bersahabat, tapi tidak dengan hatiku. Kiranya suasana harmoni alam ini mampulah  mengusir sejenak keraguan dan tanda tanya yang sudah kusimpan dalam satu pekan belakangan. Sayang, tidak demikian.

Justru bening air yang begitu memikat mata, bunyi perciknya yang menyeruak sampai ke telinga, dan dinginnya air yang menjalar ke nadi dibalik kulit ini membawa seberkas ingatanku tentang kamu.

Sudah seminggu, kamu berlalu tanpa kabar. Sudah 7 hari, kamu menghilang bak di telan bumi. Sudah sekitar 168 jam kamu tak ada mengabariku, sepatah kata pun tidak. Kemanakah, kamu?

Padahal tak ada perselisihan yang berarti untuk 8 hari lalu. Tak ada perdebatan dan tak ada pertengkaran. Kita baik-baik saja, bukan?

Kamis, 18 September 2014

Kamu dan Nanti

Selamat pagi embun yang masih bergelayutan di dedaunan, selamat pagi burung yang baru saja mengerjapkan mata dari tidur semalam…

Hssshhh, selamat pagi, dunia kecilku yang baru hendak kumulai dari sini. Ya, tepi jalan, gang kecil dimana biasa aku menyerakkan lamunan dan harapan-harapan kecilku untuk setiap kantong-kantong pikiran yang mungkin hampir tumpah dari tempatnya.

Disinilah aku, masih dengan harapanku yang semu, dengan kamu sebagai tokoh utama cerita-cerita khayalan benakku. Aku masih bisa mendengar buncahan riang di dalam kepalaku yang menyuarakan dan meneriakkan namamu saat imajinasi menyulutku untuk berteriak dengan kencang menyebut namamu hanya karena 1 kata; rindu. Oh, tidak! Aku belum segila itu. Jadi tetap, kau masih kusimpan dalam lamunan dan khayalan singkatku sepeninggalankudari rumah menuju tempat tujuanku selanjutnya.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Perahu, Kayuh dan Kita

Wusss… desir angin senja  yang semilir merayapi tubuhku.
Disinilah aku, diam, sepi dan sendiri.

Aku sedang duduk dibawah pohon beringin yang mungkin usianya dua kali usiaku. 

Ya, inilah caraku menghabiskan akhir pekanku –kala aku merindukan sosokmu dengan sangat.

Kulayangkan pandang pada danau yang jaraknya tak cukup jauh dariku. Ada biduk kecil dan kayuh yang catnya mulai pudar warnanya. Hmm, apa kau tau? Mungkin dulu senja pun cemburu melihat kita yang selalu bisa berbagi cerita dan kebahagian dalam tiap millimeter jarak yang kita raih dengan 2 benda itu.

Senin, 21 Juli 2014

JATUH CINTA DALAM DIAM

Well, ini adalah tulisan perdana aku dimana aku menempatkan diri dari POV (point of view) yang berbeda. Apa maksudnya? Baiklah, tulisan yang bakal kamu baca dibawah adalah tulisan dimana POVnya adalah seorang laki-laki (yeps, laki-laki (kan biasanya aku nyeritain kisah dari sudut pandang perempuan, kalo ini dari POV laki-laki)) yang jatuh cinta diam-diam dalam diam pada seorang gadis 1 kampusnya.

Terimakasih untuk mbak Eka yang dengan besar hati udah minjemin novel-novel kecenya. Berkat “Still” nya Esti Kinasih, “Sisi Merah Muda” nya Mira W, “Sunshine Becomes You” nya Illana Tan, dan “Fate” nya Orizuka, akhirnya terbitlah rasa semangat yang berkobar-kobar untuk ngisi ini blog lagi. *wink*

Duh, pliss, aku bisa melihat tatapan kalian, fellas. I need ur critic and some advise instead pandangan sinis yang mungkin bisa membunuhku kalau saja pandangan dari mata mempunyai potensi untuk membuatku tak bernyawa. Hahahha. Aku kebanyakan bercerita yaa?Lets check it out!

“Hey, gadis “sapaku pada pigura kecil di atas meja belajarku yang warnanya kecoklatan. Kupandangi wajah cerianya sejenak. Lalu aku beralih pada sosok disebelahnya. Kurasa mereka sangat amat cocok untuk bersanding berdua—lebih dari sekedar teman. Seketika ada perasaan hangat yang menjalar ke dalam dadaku saat memikirkan sosok manis berambut hitam panjang yang ada dalam frame putih itu.

Kamis, 17 Juli 2014

Dear, Kesepian...

Dear kesepian…
Selamat malam, kata yang berjumlah 8 huruf yang maknanya sudah kunikmati selama beberapa tahun belakangan.

Kini, sedang kunikmati “Back To December” Taylor Swift. Ah, cocok sekali. Ia mampu memberikan sesal di musim dingin yang waktu itu hampir saja kulewati dengan bahagia bersama sosoknya. Hampir. Hampir.

Coklat yang sudah nyaris kunikmati lumerannya tiba-tiba berganti kesan seperti makanan yang tidak kusukai seperti pare atau daun papaya yang direbus persis seperti buatan mamaku saat kudengar liriknya semakin lama memanggilku untuk tenggelam dalam kepahitan itu.