Melva Sari Simangunsong

Dear people, this blog is not truly and merely about me n my life only. I am a random-post-writer. So I post everything in my mind.The thing that I wrote is not all about me, n not all about you. Thanks. :)

Kamis, 24 April 2014

Seperti Apa Harimu?




Ingin saja kulenyakkan kepalaku dalam tidur dan terlelap, pulas, dan nyenyak…
Tapi entah kenapa aku hanya ingin memikirkanmu saja, dan membiarkan jari ini berbicara lewat tulisan singkat malam ini…

Sudah berapa lama tak kulihat lagi batang hidungmu di depan mataku?
Sudah berapa lama tak lagi kujumpai sosokmu yang selalu saja buatku jadi merindu.
Ah, aku tak tau…

Aku ingin bertanya bagaimana harimu, bagaimana kisahmu dengannya? :’)
Lama sudah kita tak saling bercengkrama. Lama sudah kita tak saling tertawa bersama. Ah, jangankan untuk itu, bersalam sapa saja, lima jari di tangan kanan/kiri ku tak kan penuh untuk menghitung kesempatan itu.
Aku, jujur saja merindukan saat-saat dimana kamu dan aku ada dalam 1 ruang dan waktu. Berbagi rasa, dan berbagi cerita. Lalu pelan-pelan jatuh ke tempat yang disebut “cinta.” Apa kau juga sama? Apa kau juga masih menyimpan rasa yang dulu pernah kita kecap bersama?

Atau,,, sedikit demi sedikit kau mulai lupa padaku?
Atau,,, kau mulai berpindah hahti padanya? Maksudku, benar-benar berpindah padanya.
Apa itu sebabnya kau tak pernah lagi memberiku kabar?
Apa itu sebabnya kau tak lagi berucap “selamat pagi” setiap harinya?

Hmm, entahlah. Aku hanya malas jika harus memikirkan masalah kau dan dia.
Untuk kali ini, mungkin mendapat jawaban atas “seperti apa harimu?” saja sudah cukup untukku.

Kau tau? Aku masih sama. Selalu merindu. Selalu menanti. Ya, kamu!

Kamis, 17 April 2014

Wush...



Wussh,,
Aku mendengar dan bisa merasa deru angin bertiup dikedua belah telingaku. Ujung-ujung jariku juga mulai kedinginan dibawah langit yang sedang tak berkawan dengan bintang. Bahkan gurat bulan pun tak ada dalam radius pandangan mata telanjangku. Mungkin hujan kali ini kan bertamu kembali. Ini kali kedua dalam minggu ini jika benar hujan kembali untuk singgah di desa dimana sebuah gurat nostalgiaku berakar.
Lebih jauh, kurasa aku bahkan bisa melihat gelapnya malam yang siap menerkam syaraf-syaraf yang tak ada perlindungan kehangatan. Ah, dinginnya kota ini sudah semacam winter di seberang Eropa sana kurasa.

Bisa kutatap 2 pasang kaki yang sedang berjalan dengan perlahan. Bisa kulihat gamit sang wanita itu dilengan sang pria. Dan dengan mesra nya, si pria membenahi topi dingin si perempuan yang bisa kulihat dari kejauhan hamper jatuh ke tanah yang berbatu yang sedang mereka lewati.

Hari masih belum terlalu gulita untuk dijamah jika ini di tengah hiruk pikuk metropolitan. Tapi wajar saja, desa kecil di daerah pegunungan ini sudah mulai diam dan bisu saat matahari mengendap-ngendap memancarkan warna jingga kemerahannya di bagian barat bumiku ini.

Selagi menatapi langkah sepasang kekasih yang sebetulnya kakek dan nenek tua itu, jemariku semakin merasa kedinginan, dan saku jaketku adalah selimut terhangat untuk 10 anak tanganku…

Sepeninggalan mereka, aku masih berdiam dalam kebisuan. Lalu menghela nafas ringan, sembari mengingat sebuah kenangan. Nostalgia.

Aku masih ingat saat kamu menggenggam jemariku kala aku kedinginan. Aku masih ingat bagaimana caramu membantuku memakaikan jaketku saat kita hendak bepergian makan malam keluar.

Ah, manis memang…
Dua tahun berlalu tanpamu bukanlah mulus dan tak ada kerikil yang menghalang.
Kakiku bahkan perih tak tertahan kala ujung kerikil yang tajam mengiris ruas-ruas jemariku saat kucoba papah langkahku yang memang mulaikabur arahnya.
Begitulah analogi yang bisa kugambarkan semenjak kepergianmu…
Bahkan nostalgiaku yang sekian detik pun terasa menyenangkan. Karena kamu. Kamu. Kamu.

Kau tau?
Bahkan malam terhangat tak akan pernah mampu mengalahkan hangat peluk jemarimu di tanganku….

Salam dariku, yang mencintaimu.

Sabtu, 12 April 2014

Apa Aku Keliru?

Karena kukira waktu bisa menghentikan cinta,
itu sebabnya aku menjauh dan mengambil jarak darimu.

Karena kupikir tak ada kabar-mengabari bisa menyudahi rasaku,
itu sebabnya aku memilih untuk diam membisu dan tak bicara denganmu.

Apa aku keliru? Apa aku salah?

Dan hati,
Kau mengerti hari yang kulalui bagaimana.
Kau paham betul dengan emosi yang aku rasa kala dia tak ada.
Apa ini adalah sebentuk penyesalan atas keputusan yang salah?

Sadarkan aku, Neptunus!

Maaf atas semua tingkah tolol dan konyolku yang sekarang harus kukecap dengan rasa sabar yang teramat sangat.

Penantian mungkin akan berujung luka, karena aku masih setia dipersimpangan jalan yang tak mungkin lagi dia singgahi atau bahkan lalui…

Maaf jika aku masih belum bisa berpindah dari tempatku berdiri…
Maaf jika aku masih belum mampu berdalih dengan yang lain…
Maaf, jika cinta darimu masih selalu kuingat dan kukenang…
Maaf, jika benak bodohku masih dengan pasrah dan rela dijejali dengan kebohongan.

Selamat pagi, kabut yang masih belum mampu kuhilangkan….

Jika Dia Bukan Jodohmu....

Jika dia bukan jodohmu, apa mau dikata?
Jika dia bukan untukmu, kau mau apa?
Jika dia bukan takdirmu, lalu bagaimana?
Kau mau memaksa???
Jangan minta apa-apa atas kehendakmu yang kesannya serakah!
Doakan saja kamu dan dia jadi berkah!
Atau bahkan mereka berdua yang membawa barokah!
Karena 1 hal, tak semua hal akan jadi kepastian langkah!
Tunggu! Tunggu! Pada akhirnya, kau kan tau apa yang disebut indah!
Bersabarlah, maka kau kan lihat betapa dahsyatnya cinta!

Selamat malam, tabur bintang yang tak mampu kugerayangi dalam pandang…

Kamis, 03 April 2014

Thanks to you :)



Dear some people…
You know what?
Yeah, maybe I shouldn’t say this straight away.
But I just need you to know me that I’m grateful to have you…
:’)

I know that I’m not good.
I know that sometimes I’m that annoying.
I know that I often bully at you hey.
But, thanks for staying with me.

I don’t know what’s on your mind as what facebook says.
I don’t know what’s on your heart as what your lover says (if you have. (I don't even have too) Lol.)
But again and again, I’m thank God that I have you with me. :’)

Sorry, if I’m still being a silly me.
Sorry, if I’m stuck in my weirdness.
Sorry, if I love bullying at you. I never mean to hurt you. Really. It’s not because you love bully at me too (for those). I think it’s better rather than gossiping people, rite? We laugh at us. :D

Thanks for being care. Thanks for your affection.
Thanks for being my friends. At least until now.
Hopefully we can have a everlasting relationship (it’s not all about boys, rite?)


 Thanks. Thanks.




With love,


Melva :)

Selasa, 01 April 2014

Apa Hati Kita Pernah Benar-benar Bersatu?



Teruntuk kamu, kekasih hatiku…
Ini adalah tahun kedua aku dan kamu…
Tahun dimana ada “kita” di dalamnya…
Hanya saja, kita memang tak lagi ada dalam ikatan yang sama.
Aku sendiri. Dan kamu? Ah, jangan beri tahu aku jawabannya. Aku bahkan tau kapan saja dia menggamit lenganmu dengan mesra. Sementara aku sibuk meratapi rasa rindu ingin digegnggam manis olehmu. Kesepuluh jariku sangat merindukan genggam hangat tanganmu.

Aku tau, bahkan kalian belum juga mengecap rasa status “berpacaran.” Tapi aku juga tau, jika kalian sudah layaknya seperti pasangan yang berpacaran.
Oh, Neptunus, selamatkan aku!
Aku tak tau apa alasanmu tak menjadikannya kekasihmu. Aku tak tau mengapa kau menggantungkan cintanya pada persimpangan dimana aku berada.

Aku memang mesti menangisi kebodohan dan kepasrahan diriku.
Kau datang padaku, dan aku dengan sukacita menerimamu untuk kembali bermain dengan hatiku.


Minggu, 09 Maret 2014

Dua Puluh Hari Setelah Kepergianmu

Aku menjamu pagiku dengan senyum malas (lagi). Hari ini adalah hari ke-20 setelah aku berganti status yang biasanya ada dihatimu, lalu diganti dengan harapan semu. Singkatnya, aku tanpamu. Sudah 20 hari kata “pisah” dan “putus” serta “single” itu berdiam di hati dan pikiranku.

Aku tau, aku bukan hanya menginginkan status “in relationship” denganmu. Aku tau, yang kukejar bukanlah sekedar merk “berpacaran” denganmu. Aku… aku hanya ingin aku ada dihatimu. Sama seperti kamu yang selalu ada dihatiku. Tak peduli aku tiada lagi menggenggam tanganmu. Tak mengapa walau aku takkan bisa lagi memelukmu. Tapi bisakah, aku tinggal dihatimu? Ah, hanya harapan semu yang berputar dalam anganku yang mulai sering menggerogoti.